Kamis, 09 Mei 2013

PENGENDALIAN DIRI MELALUI KECERDASAN EMOSIONAL (EQ)

Kecerdasan emosional atau Emotional Qoutient (EQ), adalah salah satu kecerdasan manusia yang saat ini sangat diperlukan dalam upaya untuk pengendalian diri dengan cara pengendalian emosi. Menurut Daniel Goleman dalam bukunya Emotional Intellengence (hal. 411–412), emosi dikelompokkan  dalam beberapa golongan yaitu: amarah,  kesedihan, rasa takut, kenikmatan,  cinta,  terkejut,   jengkel dan  juga  malu. Secara umum Emosi bisa bersifat positif  diantaranya yaitu  rasa senang,  cinta kasih, kehati-hatian, bahagia, dan juga bisa bersifat negatife misalnya rasa iri, dengki, rasa marah, ketakutan, dan lain sebagainya.

      Emosi yang muncul sebetulnya dapat menjadi sumber energi, autentisitas dan semangat manusia yang sangat kuat,  tergantung bagaimana cara mengelola emosi tersebut, sehingga bisa sebagai energi pengaktif untuk aktifitas kehidupan kita sehari-hari, misalnya; empati, integritas, kredibilitas, keuletan, saling percaya dan juga untuk hubungan sosial lainnya. Untuk mencapai kondisi tersebut yang perlu dilakukan hanya dengan menggunakan kecerdasan,  karena dengan  cerdas emosi kita akan dapat mengelola emosi dengan baik dan terarah.Orang yang mempunyai kecerdasan emosional  adalah mereka yang sudah mampu mengenali, mengelola, memanage, mengarahkan, memanfaatkan dan mengoptimal-kan emosi kita, serta  mampu mengenali emosi orang lain juga mampu membina hubungan dengan orang lain.

Kecerdasan Emosional
Pengertian Kecerdasan Emosi
Menurut Goleman (2002:45) kecerdasan emosi merujuk pada kemampuan untuk memotivasi diri sendiri dan bertahan menghadapi frustrasi, mengendalikan dorongan hati dan tidak melebih-lebihkan kesenangan, mengatur suasana hati dan menjaga agar beban stres tidak melumpuhkan kemampuan berfikir, dan berempati.

Dari definisi diatas dapat disimpulkan bahwa kecerdasan emosional merujuk pada sejumlah kemampuan dan ketrampilan sosial yang berhubungan dengan pengendalian dan pembinaan hubungan sosial dengan lingkungan, selain itu pengaturan diri dan cognitive inteligensi merupakan aspek penting dalam kecerdasan emosional karena dengan memahami diri dan orang lain, mengatur emosi dengan baik, individu dapat menyadari berbagai emosi yang dimilikinya dan yang dimiliki orang lain serta kekurangan dan kelebihannya sehingga ia mampu menggunakan kemampuan yang ada pada dirinya untuk menghadapi stimulus dari lingkungannya secara tepat termasuk stimulus yang dapat memunculkan perilaku aggressive driving.

Aspek-Aspek Kecerdasan Emosional
Berdasarkan pendapat Goleman (dalam Mutadin, 2002:1) membagi kecerdasan emosional dalam beberapa kemampuan atau aspek yaitu:
1)Mengenali Emosi Diri yakni kesadaran diri dalam mengenali perasaan sewaktu perasaan itu terjadi merupakan dasar kecerdasan emosional. Pada tahap ini diperlukan adanya pemantauan perasaan dari waktu ke waktu agar timbul wawasan psikologi dan pemahaman tentang diri.

2)Mengelola Emosi. Mengelola emosi berarti menangani perasaan agar perasaan dapat terungkap dengan tepat, hal ini merupakan kecakapan yang sangat bergantung pada kesadaran diri.

3)Memotivasi Diri. Kemampuan seseorang memotivasi diri dapat ditelusuri melalui hal-hal sebagai berikut, cara mengendalikan dorongan hati, derajat kecemasan yang berpengaruh terhadap unjuk kerja seseorang, kekuatan berfikir positif, optimisme, dan keadaan flow (mengikuti aliran), yaitu keadaan ketika perhatian seseorang sepenuhnya tercurah ke dalam apa yang sedang terjadi, pekerjaannya hanya terfokus pada satu objek.

4)Mengenali Emosi Orang Lain. Empati atau mengenal emosi orang lain dibangun berdasarkan pada kesadaran diri. Jika seseorang terbuka pada emosi sendiri, maka dapat dipastikan bahwa ia akan terampil membaca perasaan orang lain.

5)Membina Hubungan Dengan Orang Lain. Membina hubungan dengan orang lain merupakan keterampilan sosial yang mendukung keberhasilan dalam pergaulan dengan orang lain. Tanpa memiliki keterampilan seseorang akan mengalami kesulitan dalam pergaulan

Ciri Orang Yang Mempunyai Kecerdasan Emosional Tinggi
Orang yang sukses dalam pekerjaan tidak hanya memiliki intelegensi yang tinggi, namun secara emosional mereka juga baik. Orang yang cerdas secara emosi akan bersikap tegas dan mampu mengendalikan perilaku sehingga terbebas dari perilaku-perilaku negatif. Kecerdasan emosional sangat sulit diukur dan sampai sekarang belum ada alat tes tunggal yang menghasilkan nilai kecerdasan emosional.

Dari uraian diatas dapat disimpulkan bahwa ciri orang yang mempunyai kecerdasan emosional adalah mudah bergaul, tidak mudah takut, bersikap tegas, berkemampuan besar untuk melibatkan diri dengan orang lain, konsisten, tidak emosional, lebih mengutamakan rasio daripada emosi, dapat memotivasi dirinya sendiri dan lebih penting dapat memecahkan solusi dalam keadaan yang darurat.

Manfaat Kecerdasan Emosional
Pengendalian emosi sangat penting dalam kehidupan manusia karena melalui emosi yang terkendali maka bentrokan antara satu dengan yang lain sangat jarang sekali terjadi. Jika seseorang itu dapat mengenal, mengendalikan emosinya dan dapat menyalurkan emosi itu kearah yang benar dan bermanfaat, maka akan cerdas dalam emosinya. Dengan menggunakan aspek-aspek kecerdasan emosionalnya dengan baik, otomatis akan timbul sikap individu yang diharapkan tersebut.

Perkembangan kecerdasan emosional ini berhubungan erat dengan perkembangan kepribadian dan kematangan kepribadian. Dengan kepribadian yang matang dapat menghadapi dan menyelesaikan berbagai persoalan, dan betapapun beban dan tanggung jawabnya besar tidak menjadikan fisik menjadi terganggu.

Jadi kecerdasan emosional merupakan aspek yang sangat dibutuhkan dalam mengemudi dan dalam kehidupan bermasyarakat, selain itu masih banyak manfaat kecerdasan emosional yang lain yang bisa diterapkan dalam kehidupan sehari-hari, selain di lingkungan keluarga, sekolah dan lingkungan bermasyarakat. Selain itu kecerdasan emosionallah yang memotivasi kita untuk mencari manfaat, potensi dan mengubahnya dari apa yang kita pikirkan menjadi apa yang kita lakukan. Karena  kecerdasan emosional itu bukan muncul dari pemikiran intelek yang jernih tetapi muncul dari hati nurani, sehingga apapun  yang muncul dari perasaan  akan selalu memberikan informasi penting yang memotivasi kita untuk mencari potensi yang kita miliki serta dapat  menggunakannya secara baik dan benar. Meskipun Kecerdasan Emosional ini sifatnya dinamis, tidak tetap dan bisa berobah setiap saat, tetapi bila kecerdasan ini konsisten dimiliki, maka  semakin tua orang akan menjadi semakin bijaksana, Kecerdasan emosional tersebut sangat bermanfaat bagi semua golongan umur  di semua strata kehidupan, diantaranya dapat membuat  orang  tidak depresi, tidak cepat putus asa, tidak membuat implusif dan agresif, tidak cepat puas, tidak egois, selalu terbuka pada kritikan, terampil dalam melakukan hubungan sosial, tidak mudah marah dan lain sebagainya,  dan ini semua tentu akan berdampak positif untuk menghilangkan sosial problem, sebagai dampak  negatif globalisasi yang saat ini banyak terjadi di masyarakat.


Pemahaman Pengendalian Diri
Tujuan akhir pengendalian diri adalah untuk mencapai kesuksesan/keberhasilan. Perjalanan hidup ini sangat dinamis, kadang berliku, menurun atau mendaki. Medan kehidupan yang demikian itu menuntut kita harus menguasai sejumlah kompentensi hidup, antara lain pengendalian diri.

Mengapa Harus Mengendalikan Diri
Mengapa Daniel Goleman (Ary Ginanjar, 2001) mengisahkan sebagai berikut:
Anak-anak usia 4 tahun di TK Standford diuji ketika memasuki sebuah ruangan. Dia atas disediakan kue marsh mallow. Anak boleh mengambilnya dan langsung memakannya. Tetapi bagi yang mau ‘’berpuasa’’ menahan waktu dalam waktu tertentu, maka ia akan dapat hadiah tambahan satu kue.
Empat belas kemudian, setelah anak-anak lulus SMA, didapati sebagai berikut:
Anak-anak sewaktu di TK langsung memakan kue, tidak menahan dulu, ternyata cenderung tidak tahan menghadapi stress, mudah tersinggung, gampang terpancing untuk berkelahi.
Tiga puluh tahun kemudian, terbukti bahwa anak yang sewaktu TK tidak bisa menahan diri, setelah dewasa terlihat kecakapan kognitif dan emosinya rendah, sering kesepian, kurang dapat diandalkan, mudah hilang konsentrasinya, dan tidak sabar bila menghadapi stress hampir tidak terkendali. Tidak fleksibel menghadapi tekanan, dan mudah meledak-ledak emosinya (impulsif).
Dalam keadaan tertentu kita kadang sulit untuk mengendalikan diri sendiri di mana banyak hal yang sangat membuat kita ingin marah dan berontak terhadap sesuatu hal yang membuat kita ingin marah. Semua itu timbul karena emosi yaitu perasaan yang timbul dalam diri kita sendiri secara alami itu bisa berupa amarah, sedih, senang, benci, cinta, bosan, dan sebagainya yang merupakan efek atau respon yang terjadi dari sesuatu yang kita alami. Kecerdasan emosi merupakan kemampuan manusia untuk memotivasi diri sendiri, bertahan menghadap frustasi, mengendalikan dorongan hati (kegembiraan, kesedihan, kemarahan, dan lain-lain), mengatur suasana hati dan mampu mengendalikan stres dan keadaan yang melanda kita. Kecerdasan emosional juga mencakup kesadaran diri sendiri dan mengendalikan dorongan hati, ketekunan, semangat dan motivasi diri dan kendali dorongan hati, ketekunan, semangat dan kecakapan sosial. Ketrampilan yang berkaitan dengan kecerdasan emosi antara lain misalnya kemampuan untuk memahami orang lain, kepemimpinan, kemampuan membina hubungan dengan orang lain, kemampuan berkomunikasi, kerjasama tim, membentuk citra diri positif, memotivasi dan memberi inspirasi dan sebagainya.

Melatih Daya Ingat Bayi

Tahukan Anda, sejak dalam kandungan, bayi lebih bisa mengingat suara-suara yang sering ia dengar, ketimbang suara yang baru ia dengar saat lahir. Itu sebabnya bayi sangat hapal suara ibu dan ayahnya. Latih terus daya ingatnya sejak dini.
  • Kontak mata. Tatap mata bayi ketika Anda memberinya intruksi atau mengatakan sesuatu agar ia mengingatnya.

  • Permainan. Anak Anda senang bermain dan mendapat manfaat dari bermain yang merangsang day aingat, selama Anda memainkannya dengan santai dan senang. Misalnya, menyembunyikan mainan dengan menutupinya menggunakan kain, atau permainan yang melibatkan inderawi. Misalnya, meliat, menyentuh, mencium dan mendengarkan suara.
  • Nama. Ucapkan nama-nama benda dengan jelas, seperti meja, gelas, cangkir, agar ia dapat mengngat benda dan namanya. Juga nama orang-orang di sekelilingnya.
  • Melihat-lihat isi buku bergambar atau album foto sesering mungkin sambil menunjuk, dan menyebutkan nama gambar dalam buku dan nama orang-orang pada album foto.
Jenis-jens ingatan:
  • Visual: mengingat dengan penglihatan (wajah orang).
  • Auditif: mengingat lewat suara (namanya sendiri, nama orang dan lagu).
  • Olfactory: mengingat bau dan rasa (susu).
  • Kinestetik: mengingat gerakan (menggoyang mainan, menggerakkan tangan atau kaki untuk melakukan sesuatu).
Semantic: meningat bahasa dan arti (kata dan kalimat).

5 Macam Kecerdasan Emosional Anak

Membangun kecerdasan anak memerlukan kerjasama yang baik antara orang tua dan anak.  Fungsi orang tua adalah memberikan stimulasi agar anak bisa tumbuh kembang dengan baik terutama tingkat kecerdasannya.  Tanpa bantuan orang tua maka tingkat kecerdasan anak tidak akan bisa berkembang secara optimal.  Agar perkembangan kecerdasan anak dapat maksimal maka harus dimulai sejak anak usia dini.
Kecerdasan intelektual dan kecerdasan emosi merupakan dua hal yang harus tetap dibina sejak anak usia dini.  Dua kecerdasan tersebut tidak boleh dipisahkan karena kecerdasan tersebut memiliki peran yang besar dalam membentuk anak yang cerdas dan pintar.  Dalam membentuk anak yang berhasil dan sukses hal yang perlu diperhatikan adalah pembentukkan kecerdasan emosional anak. Kecerdasan emosional memiliki kedudukan yang penting dalam membentuk anak sukses.
Anak yang memiliki kecerdasan emosional yang tinggi akan lebih memiliki kecakapan lebih bila dibandingkan dengan anak yang hanya memiliki kecerdasan intelektual saja.  Anak yang memiliki kecerdasan emosional yang baik maka biasanya anak tersebut akan mudah bergaul, memiliki kepribadian yang lebih banyak disukai oleh orang lain dan cenderung memiliki ketahanan fisik yang lebih kuat karena anak mampu mengelola emosinya dengan baik.
Aspek-aspek kecerdasan emosional anak dapat dibagi menjadi 5 macam yaitu :
1. Kecerdasan untuk mengenali emosi sendiri
Kecerdasan ini adalah kemampuan untuk mengenali emosi yang timbul dalam diri sendiri.  Kepekaan mengenal emosi diri sendiri akan membantu menangkap sinyal dan mengidentifikasi emosi yang timbul dan sedang berlangsung dalam diri.  Emosi yang bisa muncul antara lain sedih, senang, marah, benci, riang, takut, kecewa dan lain sebagainya.
2. Kecerdasan Mengelola Emosi
Mengelola emosi merupakan bagian yang terpenting untuk menjaga agar anak tidak melakukan hal-hal yang tidak baik.  Kondisi marah yang tidak dikelola dengan baik bisa menyebabkan anak berbuat negatif, bisa jadi anak akan berteriak ataupun memukul anak yang lainnya.  Kemampuan untuk mengelola kondisi emosi akan sangat membantu anak untuk tetap bersikap tenang. Sikap tenang merupakan point penting dalam menghadapi masalah dan sikap tenang akan bisa menyelesaikan masalah tersebut dengan baik.
3. Kecerdasan Memotivasi diri
Memotivasi diri adalah salah satu kemampuan untuk memberikan semangat dalam diri yang sedang lemah.  Kemampuan ini menjadi penting karena setiap anak pasti akan mengalami pasang surut terutama kondisi semangat maupun kondisi hati.  Kemampuan untuk memotivasi diri maka akan membuat anak tetap semangat dan memiliki rasa optimisme yang tinggi.
4. Kecerdasan untuk mengenali emosi orang lain
Tak mungkin anak akan hidup sendiri.  Anak memerlukan orang lain baik itu dikala bermain ataupun ketika sedang berkumpul.  Kemampuan untuk memahami kondisi emosi orang lain akan membuat anak lebih disukai dan anak akan lebih mudah bergaul.  Rasa empati akan muncul manakala anak bisa memahami kondisi orang lain.
5. Kecerdasan Sosial
Dengan modal rasa empati yang dimilikinya maka anak akan lebih mudah untuk menjalin hubungan sosial dengan orang lain.  Kecerdasan sosial yang baik akan sangat membantu anak dalam membangun jaringan relasi dan tentunya hal ini akan sangat diperlukan manakala anak sudah tumbuh dewasa.  Kecerdasan sosial yang baik akan membuat anak mempunyai banyak teman, pandai bergaul dan anak akan lebih mudah dikenal oleh orang lain.
Lima aspek kecerdasan emosi anak sebaiknya dibina sejak anak usia dini.  Keberhasilan dalam membentuk kecerdasan emosional akan sangat membantu anak dalam mengarungi kehidupannya kelak.  Kondisi hati dan jiwa yang tenang akan mampu untuk menyelesaikan permasalahan dengan baik.  Karena tak mungkin manusia hidup tanpa masalah, termasuk juga anak.  Semua orang punya masalah, tinggal yang membedakannya adalah bagaimana cara menghadapi permasalahan tersebut.  Kombinasi yang baik antara kecerdasan intelektual dan kecerdasan emosi akan membuat permasalahan mudah untuk diselesaikan.  Tentunya dengan ijin Allah Sang Maha Pencipta.

Cara Tepat Menjalin Komunikasi kepada Anak

Menjalin komunikasi yang baik dalam sebuah keluarga itu sangat diperlukan. Komunikasi merupakan suatu hal yang melatarbelakangi erat atau tidaknya hubungan sebuah keluarga. Jika komunikasi yang terjalin antara anggota keluarga yang satu dan yang lainnya cukup baik, maka kehidupan keluarga akan terasa menyenangkan.
Selain itu, dengan adanya komuniksi yang baik juga bisa menyemangati si anak dan tidak membuatnya menjadi stres. Sebagai orangtua, Anda harus bisa menjalin komunikasi yang baik dengan si anak.

Berikut cara tepat menjalin komunikasi dengan anak:
1. Mendengarkan anak Anda bisa menanyakan kepada si anak apa yang terjadi di sekolah. Namun, saat mendengarkan si anak bebicara jangan malah beralih ke televisi, koran, atau ponsel. Anda harus bisa mendengarkan si anak. Bila perlu, berikan tanggapan Anda mengenai hal yang diceritakannya tersebut.
 2. Membimbing anak Saat si anak sedang menonton televisi atau memainkan akun jejaring sosialnya, sebisa mungkin Anda harus berada di sampingnya. Sebagai orangtua yang baik, Anda harus bisa membimbingnya dan memberikan pengetahuan mengenai cara menggunakan internet yang baik.
 3. Menghargai prestasi anak Anda juga disarankan agar menghargai prestasi yang didapat si anak. Misalnya, si anak memenangkan pertandingan di sekolahnya. Anda harus bisa menghargainya dengan cara memberikannya selamat atau membuatkan makan malam kesukaannya. Dengan begitu, si anak akan merasa senang dan lebih termotivasi lagi untuk melakukan hal baik.
 4. Memberikan waktu anak untuk menjawab Anak-anak mungkin memerlukan waktu beberapa saat untuk memproses dan memahami apa yang dikatakan orangtuanya. Untuk itu, Anda harus memberikan si anak waktu agar bisa menjawab apa yang Anda tanyakan.
 5. Tak menggunakan kata-kata yang rumit Saat berbicara pada si anak, jangan menggunakan kata-kata yang rumit. Pilihlah kalimat yang mudah dicerna oleh si anak. Dengan begitu, si anak tidak akan bingung dan cepat tangkap apa yang Anda katakan.
 6. Mengajak berdiskusi Berdiskusi dengan anak bisa membuatnya merasa dihargai. Untuk itu, tak ada salahnya Anda mendiskusikan sesuatu dengan anak. Misalnya, mendiskusikan pelajaran di sekolahnya, masalah keluarga, dan lain sebagainya.
 7. Sabar menghadapinya Meskipun si anak nakal, namun Anda harus sabar menghadapinya. Menanggapi sesuatu dengan sabar merupakan cara terbaik untuk berkomunikasi dengan mereka. Dengan begitu, si anak juga akan lebih merasa nyaman berada di samping orangtuanya.
 8. Mengatakan sesuatu dengan cara yang positif Anda mungkin sering menggunakan intonasi tinggi saat mengajarkan sesuatu pada anak. Namun, kebiasaan itu sebaiknya dihilangkan saja karena bisa membuat si anak merasa ketakutan dan tidak percaya diri. Anda bisa mengganti kata-kata itu dengan kalimat yang lebih positif. Misalnya berkata, “Kalau meletakkan tas di sini kan jadi lebih rapi, nak.” Itulah cara tepat menjalin komunikasi dengan anak.

Bagaimanapun juga, komunikasi yang baik itu harus terjalin dengan baik dalam sebuah keluarga. Tujuannya adalah agar setiap anggota kelurarga merasa nyaman dan tak ada kesalahpahaman.

HEDONISME PADA REMAJA

Hedonisme muncul pada awal sejarah filsafat sekitar tahun 433 SM. Hedonisme ingin menjawab pertanyaan filsafat "apa yang menjadi hal terbaik bagi manusia?" Hal ini diawali dengan Sokrates yang menanyakan tentang apa yang sebenarnya menjadi tujuan akhir manusia. Lalu Aristippos dari Kyrene (433-355 SM) menjawab bahwa yang menjadi hal terbaik bagi manusia adalah kesenangan.
Hedonisme adalah pandangan hidup yang menganggap bahwa kesenangan dan kenikmatan materi adalah tujuan utama hidup. Bagi para penganut paham ini, bersenang-senang, pesta-pora, dan pelesiran merupakan tujuan utama hidup, entah itu menyenangkan bagi orang lain atau tidak. Karena mereka beranggapan hidup ini hanya sekali, sehingga mereka merasa ingin menikmati hidup senikmat-nikmatnya. di dalam lingkungan penganut paham ini, hidup dijalani dengan sebebas-bebasnya demi memenuhi hawa nafsu yang tanpa batas.
Remaja dan mahasiswa termasuk dalam kategori generasi penerus bangsa Indonesia di masa depan. Peran mereka sebagai generasi penerus akan menentukan kemajuan dan kemampuan Indonesia untuk bersaing dengan negara lain dalam segala bidang, baik ilmu pengetahuan, teknologi, informasi maupun lainnya. Adanya budaya hedonisme yang makin marak memberikan pengaruh kepada mereka termasuk salah satu hal yang harus diwaspadai dan diperlukan jalan keluar penyelesaiannya.
Fakta adanya budaya hedone yang marak di kalangan generasi penerus Indonesia, misalnya pesta minuman keras, pesta narkoba, pergaulan bebas dan lainnya. Semua fakta tersebut berujung pada kesenangan dunia belaka. Akibat yang ditimbulkan beragam dan membuat kondisi generasi penerus tersebut ironi dengan tingkah laku mereka.
Budaya ini dapat dihindari dan dicegah dengan adanya peran aktif dari lini sendiri, keluarga, masyarakat, dan negara. Hidup hedone tidak dapat hanya dibentengi dengan pengendalian diri sendiri karena manusia pada dasarnya makhluk sosial dan mudah terpengaruh dengan orang lain dalam kondisi tertentu.
Sebagian besar generasi penerus tersebut memiliki pendapat bahwa budaya hedonisme memiliki hubungan dengan gaya hidup modern. Jika mereka tidak mengikuti arus kehidupan modern, maka mereka merasa tertinggal dan berada pada posisi tidak berkembang mengikuti perkembangan jaman. Pendapat seperti itulah yang seharusnya tidak dimiliki generasi Indonesia.
Memaknai kehidupan modern dan mengikuti perkembangan jaman berbeda dengan terpengaruh kesenangan hidup modern yang berujung pada hedone. Oleh karena itu, seperti ulasan sebelumnya peran dari semua aspek kehidupan baik diri sendiri sampai dengan negara harus diupayakan terlaksana demi menyelamatkan aset penting negara yaitu generasi muda Indonesia.
Kehidupan modern yang salah dimaknai oleh para generasi penerus bangsa biasanya dapat terlihat dari sisi lahiriyah, seperti arsitektur atau bentuk rumah, pusat perbelanjaan modern, gaya hidup modern dan lainnya yang terpengaruh kehidupan modern. Padahal jika kita telusuri, semua hal yang dimaknai modern tersebut asalnya dari negara barat. Hal itulah yang menjadikan cara pandang dan berpikirnya generasi penerus Indonesia tidak sesuai dengan nilai luhur budaya Bangsa Indonesia.
Era globalisasi seperti saat ini seharusnya dihadapi dengan banyak persiapan terutama generasi penerusnya. Wajar jika secara mayoritas masyarakat Indonesia terutama generasi penerusnya. Wajar jika secara mayoritas masyarakat Indonesia terutama generasi penerusnya makin jauh dari nilai lihur budaya bangsa karena ketidakpastian mereka menghadapi era globalisasi.
Semua mengikuti arah budaya barat dalam segala kehidupan. Misalnya makin ramainya tempat hiburan malam, anak muda menykai mabuk-mabukan yang berakibat pada keributan, adanya pencinta sesama jenis di Indonesia, banyak pelajar yang umumnya remaja tidak ada semangat belajar karena menurut mereka belajar merupakan kegiatan yang membosankan. Hal inilah yang membuat budaya di Indonesia mulai dilupakan dengan adanya gaya hidup hedonisme.

SIFAT EGOIS PADA REMAJA

Egoisme adalah cara untuk mempertahankan dan meningkatkan pandangan yang menguntungkan bagi dirinya sendiri, dan umumnya memiliki pendapat untuk meningkatkan citra pribadi seseorang dan pentingnya - intelektual, fisik, sosial dan lainnya. Egoisme ini tidak memandang kepedulian terhadap orang lain maupun orang banyak pada umunya dan hanya memikirkan diri sendiri
Egois ini memiliki rasa yang luar biasa dari sentralitas dari 'Aku adalah'. Kualitas pribadi mereka Egotisme berarti menempatkan diri pada inti dunia seseorang tanpa kepedulian terhadap orang lain, termasuk yang dicintai atau dianggap sebagai "dekat," dalam lain hal kecuali yang ditetapkan oleh egois itu.
Kata "egoisme" merupakan istilah yang berasal dari bahasa latin yakni ego, yang berasal dari kata Yunani kuno - yang masih digunakan dalam bahasa Yunani modern - ego (εγώ) yang berarti "diri" atau "Saya", dan-isme, digunakan untuk menunjukkan sistem kepercayaannya. Dengan demikian, istilah ini secara etimologis berhubungan sangat erat dengan egoisme filosofis.
"Ego" dapat dimaknai sebagai "aku; diri pribadi; rasa sadar akan diri sendiri; konsepsi individu tentang dirinya sendiri". Tidak ada konotasi negatif dari arti kata ini. Justru merupakan langkah awal untuk segala yang bernama kebaikan, karena merupakan refleksi dari kesadaran individu mengenai dirinya sendiri. Kemudian kata ini mendapat akhiran menjadi "egois" yang berarti: orang yang selalu mementingkan diri sendiri. Dari sini kemudian kita melegitimasi dengan definisi bahwa orang yang egois (baca: mementingkan diri sendiri) adalah orang yang bertingkah laku buruk karena tidak memikirkan kepentingan atau kesejahteraan orang lain. Perilakunya cenderung destruktif karena hanya demi keuntungannya pribadi. Benarkah dengan merugikan orang lain dan hanya mementingkan diri sendiri, orang ini akan mendapatkan keuntungan pada hasil akhir? Pantaskah orang seperti ini disebut egois? Buat saya: Tidak! Orang yang egois justru orang cerdas, berkepribadian luhur, disukai banyak orang, dan biasanya mereka adalah orang-orang sukses

KENAKALAN REMAJA

Mengapa para pelajar itu begitu sering tawuran, seakan-akan mereka sudah tidak memiliki akal sehat, dan tidak bisa berpikir mana yang berguna dan mana yang tidak ? Mengapa pula para remaja banyak yang terlibat narkoba dan seks bebas ? Apa yang salah dari semua ini ?
Seperti yang sudah diulas dalam artikel lain di situs ini, remaja adalah mereka yang berusia antara 12 - 21 tahun. Remaja akan mengalami periode perkembangan fisik dan psikis sebagai berikut :
  • Masa Pra-pubertas (12 - 13 tahun)
  • Masa pubertas (14 - 16 tahun)
  • Masa akhir pubertas (17 - 18 tahun)
  • Dan periode remaja Adolesen (19 - 21 tahun)
Masa pra-pubertas (12 - 13 tahun)
Masa ini disebut juga masa pueral, yaitu masa peralihan dari kanak-kanak ke remaja. Pada anak perempuan, masa ini lebih singkat dibandingkan dengan anak laki-laki. Pada masa ini, terjadi perubahan yang besar pada remaja, yaitu meningkatnya hormon seksualitas dan mulai berkembangnya organ-organ seksual serta organ-organ reproduksi remaja. Di samping itu, perkembangan intelektualitas yang sangat pesat jga terjadi pada fase ini. Akibatnya, remaja-remaja ini cenderung bersikap suka mengkritik (karena merasa tahu segalanya), yang sering diwujudkan dalam bentuk pembangkangan ataupun pembantahan terhadap orang tua, mulai menyukai orang dewasa yang dianggapnya baik, serta menjadikannya sebagai "hero" atau pujaannya. Perilaku ini akan diikuti dengan meniru segala yang dilakukan oleh pujaannya, seperti model rambut, gaya bicara, sampai dengan kebiasaan hidup pujaan tersebut.

Masa pubertas (14 - 16 tahun)

Masa ini disebut juga masa remaja awal, dimana perkembangan fisik mereka begitu menonjol. Remaja sangat cemas akan perkembangan fisiknya, sekaligus bangga bahwa hal itu menunjukkan bahwa ia memang bukan anak-anak lagi. Pada masa ini, emosi remaja menjadi sangat labil akibat dari perkembangan hormon-hormon seksualnya yang begitu pesat. Keinginan seksual juga mulai kuat muncul pada masa ini. Pada remaja wanita ditandai dengan datangnya menstruasi yang pertama, sedangkan pada remaja pris ditandai dengan datangnya mimpi basah yang pertama. Remaja akan merasa bingung dan malu akan hal ini, sehingga orang tua harus mendampinginya serta memberikan pengertian yang baik dan benar tentang seksualitas. Jika hal ini gagal ditangani dengan baik, perkembangan psikis mereka khususnya dalam hal pengenalan diri/gender dan seksualitasnya akan terganggu. Kasus-kasus gay dan lesbi banyak diawali dengan gagalnya perkembangan remaja pada tahap ini.

Di samping itu, remaja mulai mengerti tentang gengsi, penampilan, dan daya tarik seksual. Karena kebingungan mereka ditambah labilnya emosi akibat pengaruh perkembangan seksualitasnya, remaja sukar diselami perasaannya. Kadang mereka bersikap kasar, kadang lembut. Kadang suka melamun, di lain waktu dia begitu ceria. Perasaan sosial remaja di masa ini semakin kuat, dan mereka bergabung dengan kelompok yang disukainya dan membuat peraturan-peraturan dengan pikirannya sendiri.

Masa akhir pubertas (17 - 18 tahun)

Pada masa ini, remaja yang mampu melewati masa sebelumnya dengan baik, akan dapat menerima kodratnya, baik sebagai laki-laki maupun perempuan. Mereka juga bangga karena tubuh mereka dianggap menentukan harga diri mereka. Masa ini berlangsung sangat singkat. Pada remaja putri, masa ini berlangsung lebih singkat daripada remaja pria, sehingga proses kedewasaan remaja putri lebih cepat dicapai dibandingkan remaja pria. Umumnya kematangan fisik dan seksualitas mereka sudah tercapai sepenuhnya. Namun kematangan psikologis belum tercapai sepenuhnya.

Periode remaja Adolesen (19 - 21 tahun)

Pada periode ini umumnya remaja sudah mencapai kematangan yang sempurna, baik segi fisik, emosi, maupun psikisnya. Mereka akan mempelajari berbagai macam hal yang abstrak dan mulai memperjuangkan suatu idealisme yang didapat dari pikiran mereka. Mereka mulai menyadari bahwa mengkritik itu lebih mudah daripada menjalaninya. Sikapnya terhadap kehidupan mulai terlihat jelas, seperti cita-citanya, minatnya, bakatnya, dan sebagainya. Arah kehidupannya serta sifat-sifat yang menonjol akan terlihat jelas pada fase ini.

Kenakalan remaja

Kenakalan remaja biasanya dilakukan oleh remaja-remaja yang gagal dalam menjalani proses-proses perkembangan jiwanya, baik pada saat remaja maupun pada masa kanak-kanaknya. Masa kanak-kanak dan masa remaja berlangsung begitu singkat, dengan perkembangan fisik, psikis, dan emosi yang begitu cepat. Secara psikologis, kenakalan remaja merupakan wujud dari konflik-konflik yang tidak terselesaikan dengan baik pada masa kanak-kanak maupun remaja para pelakunya. Seringkali didapati bahwa ada trauma dalam masa lalunya, perlakuan kasar dan tidak menyenangkan dari lingkungannya, maupun trauma terhadap kondisi lingkungan, seperti kondisi ekonomi yang membuatnya merasa rendah diri, dan sebagainya.




Perilaku ‘nakal’ remaja bisa disebabkan oleh faktor dari remaja itu sendiri (internal) maupun faktor dari luar (eksternal).

Faktor internal:

  1. Krisis identitas: Perubahan biologis dan sosiologis pada diri remaja memungkinkan terjadinya dua bentuk integrasi. Pertama, terbentuknya perasaan akan konsistensi dalam kehidupannya. Kedua, tercapainya identitas peran. Kenakalan ramaja terjadi karena remaja gagal mencapai masa integrasi kedua.
  2. Kontrol diri yang lemah: Remaja yang tidak bisa mempelajari dan membedakan tingkah laku yang dapat diterima dengan yang tidak dapat diterima akan terseret pada perilaku ‘nakal’. Begitupun bagi mereka yang telah mengetahui perbedaan dua tingkah laku tersebut, namun tidak bisa mengembangkan kontrol diri untuk bertingkah laku sesuai dengan pengetahuannya.

Faktor eksternal:

  1. Keluarga dan Perceraian orangtua, tidak adanya komunikasi antar anggota keluarga, atau perselisihan antar anggota keluarga bisa memicu perilaku negatif pada remaja. Pendidikan yang salah di keluarga pun, seperti terlalu memanjakan anak, tidak memberikan pendidikan agama, atau penolakan terhadap eksistensi anak, bisa menjadi penyebab terjadinya kenakalan remaja.
  2. Teman sebaya yang kurang baik
  3. Komunitas/lingkungan tempat tinggal yang kurang baik.

Hal-hal yang bisa dilakukan/ cara mengatasi kenakalan remaja:

  1. Kegagalan mencapai identitas peran dan lemahnya kontrol diri bisa dicegah atau diatasi dengan prinsip keteladanan. Remaja harus bisa mendapatkan sebanyak mungkin figur orang-orang dewasa yang telah melampaui masa remajanya dengan baik juga mereka yang berhasil memperbaiki diri setelah sebelumnya gagal pada tahap ini.
  2. Adanya motivasi dari keluarga, guru, teman sebaya untuk melakukan point pertama.
  3. Kemauan orangtua untuk membenahi kondisi keluarga sehingga tercipta keluarga yang harmonis, komunikatif, dan nyaman bagi remaja.
  4. Remaja pandai memilih teman dan lingkungan yang baik serta orangtua memberi arahan dengan siapa dan di komunitas mana remaja harus bergaul.
  5. Remaja membentuk ketahanan diri agar tidak mudah terpengaruh jika ternyata teman sebaya atau komunitas yang ada tidak sesuai dengan harapan.


Tips untuk mencegah dan mengatasi kenakalan remaja


  • Orang tua harus selalu memberikan dan menunjukkan perhatian dan kasih sayangnya kepada anaknya. Jadilah tempat curhat yang nyaman sehingga masalah anak-anaknya segera dapat terselesaikan.
  • Perlunya ditanamkan dasar agama yang kuat pada anak-anak sejak dini.
  • Pengawasan orang tua yang intensif terhadap anak. Termasuk di sini media komunikasi seperti televisi, radio, akses internet, handphone, dll.
  • Perlunya materi pelajaran bimbingan konseling di sekolah.
  • Sebagai orang tua sebisa mungkin dukunglah hobi/bakat anak-anaknya yang bernilai positif. Jika ada dana, jangan ragu-ragu untuk memfasilitasi hobi mereka, agar anak remaja kita dapat terhindar dari kegiatan-kegiatan negatif.
  • dll



Cara Mengatasi Kenakalan Remaja


Masa remaja erat kaitannya dan sering sekali dihubung-hubungkan dengan yang namanya kenakalan remaja. Masa remaja secara umum merupakan peralihan transisi dari masa kanak-kanak ke masa remaja. Sebenarnya kenakalan remaja itu timbul akibat dari ketidak mampuan anak dalam menghadapi tugas perkembangan remaja yang harus dipenuhi.

Pada masa remaja banyak sekali perubahan yang terjadi pada diri anak, baik segi psikis maupun fisiknya. Dalam segi psikis bayak teori-teori perkembangan yang memaparkan ketidakselarasan, gangguan emosi dan gangguan perilaku sebagai akibat dari tekanan-tekanan yang dialami remaja karena perubahan-perubahan yang terjadi pada dirinya maupun akibat perubahan pada lingkungan. Jika tidak diwaspadai, perubahan-perubahan psikis yang terjadi sebagai tugas perkembangan remaja itu akan berdampak negatif pada remaja. Untuk tugas perkembangan remaja bisa lihat disini

Menurut Hurlock (1973) ada beberapa masalah yang dialami remaja dalam memenuhi tugas-tugas tersebut, yaitu :

  1. Masalah pribadi, yaitu masalah-masalah yang berhubungan dengan situasi dan kondisi di rumah, sekolah, kondisi fisik, penampilan, emosi, penyesuaian sosial, tugas dan nilai-nilai.
  2. Masalah khas remaja, yaitu masalah yang timbul akibat status yang tidak jelas pada remaja, seperti masalah pencapaian kemandirian, kesalahpahaman atau penilaian berdasarkan stereotip yang keliru, adanya hak-hak yang lebih besar dan lebih sedikit kewajiban dibebankan oleh orangtua.

Remaja masa kini banyak sekali tekanan-tekanan yang mereka dapatkan, mulai dari perkembangan fisiologi, ditambah dengan kondisi lingkungan dan sosial budaya serta perkembangan teknologi yang semakin pesat. Hal ini dapat mengakibatkan munculnya masalah-masalah psikologis berupa gangguan penyesuaian diri atau perilaku yang mengakibatkan bentuk penyimpangan perilaku yang disebut kenakalan remaja.

Menurut hemat saya, tekanan-tekanan yang timbul dari lingkungan dan orang tua yang menginginkan anak melakukan peran dewasa, padahal mereka masih tergolong dalam masa remaja, secara psikologis anak belum mampu menghadapinya. Stres, kesedihan, kecemasan, kesepian, keraguan pada diri remaja membuat mereka mengambil resiko dengan melakukan kenakalan remaja (Fuhrmann, 1990).

Faktor-faktor yang menyebabkan kenakalan remaja (dari segi lingkungan)


Faktor lingkungan merupakan peran untama dalam membantu masa remaja untuk menyelesaikan tugas perkembangannya. Adapun faktor faktor yang dapat menyebabkan munculnya kenakalan remaja adalah Keluarga (rumah tangga), Sekolah, dan Kondisi Masyarakat (lingkungan social).

1.   Keluarga (rumah tangga)

Hasil dari beberapa penelitian menunjukkan bahwa anak/remaja yang dibesarkan dalam lingkungan sosial keluarga yang tidak baik atau disharmoni keluarga, maka resiko anak untuk mengalami gangguan kepribadian menjadi berkepribadian antisosial dan berperilaku menyimpang lebih besar dibandingkan dengan anak yang dibesarkan dalam keluarga sehat atau harmonis (sakinah).

2.  Sekolah

Kondisi sekolah yang tidak baik dapat menganggu proses belajar mengajar anak didik, yang pada gilirannya dapat memberikan “peluang” pada anak didik untuk berperilaku menyimpang. Misalnya, kurikulum sekolah yang sering berganti-ganti, muatan agama/budi pekerti yang kurang. Dalam hal ini yang paling berperan adalah guru Agama, guru PKN dan Bimbingan Konseling, meskipun semua elemen sekolah bertanggung jawab atas perilaku anak di sekolah.

3.   Kondisi Masyarakat (Lingkungan Sosial)

Faktor kondisi lingkungan sosial yang tidak sehat atau “rawan”, merupakan faktor yang kondusif bagi anak/remaja untuk berperilaku menyimpang. Faktor lingkungan yang sehat misalnya:ini dapat dibagi dalam 2 bagian, yaitu pertama, faktor kerawanan masyarakat dan kedua, faktor daerah rawan (gangguan kamtibmas). Kriteria dari kedua faktor tersebut, antara lain:

Faktor Kerawanan Masyarakat (Lingkungan)

  1.  Tempat-tempat hiburan yang buka hingga larut malambahkan sampai dini hari
  2. Peredaran alkohol, narkotika, obat-obatan terlarang lainnya
  3. Pengangguran
  4. Anak-anak putus sekolah/anak jalanan
  5. Wanita tuna susila (wts)
  6. Beredarnya bacaan, tontonan, TV, Majalah, dan lain-lain yang sifatnya pornografis dan kekerasan
  7. Perumahan kumuh dan padat
  8. Pencemaran lingkungan
  9. Tindak kekerasan dan kriminalitas
  10. Kesenjangan sosial

 Daerah Rawan (Gangguan Kantibmas)

  1. Penyalahgunaan alkohol, narkotika dan zat aditif lainnya
  2. Perkelahian perorangan atau berkelompok/massal
  3. Kebut-kebutan
  4. Pencurian, perampasan, penodongan, pengompasan, perampokan
  5. Perkosaan
  6. Pembunuhan
  7.  Tindak kekerasan lainnya
  8. Pengrusakan
  9. Coret-coret dan lain sebagainya

Kondisi psikososial yang seperti ini, merupakan faktor yang kondusif (rawan) bagi terjadinya kenakalan remaja.

Cara Mengatasi Kenakalan Remaja


Masa remaja sebagai periode merupakan suatu periode yang sarat dengan perubahan dan rentan munculnya masalah (kenakalan remaja). Untuk itu perlu adanya perhatian khusus serta pemahaman yang baik serta penanganan yang tepat terhadap remaja merupakan faktor penting bagi keberhasilan remaja di kehidupan selanjutnya, mengingat masa ini merupakan masa yang paling menentukan.

Selain itu perlu adanya kerjasama dari remaja itu sendiri, orang tua, guru dan pihak-pihak lain yang terkait agar perkembangan remaja di bidang pendidikan dan bidang-bidang lainnya dapat dilalui secara terarah, sehat dan bahagia. Demikian sedikit paparan mengenai cara mengatasi kenakalan remaja, semoga kenakalan remaja di negeri ini berkurang.